Harga Obat Mahal, Bakul Jamu Sarankan Kembali Ke Tanaman Obat Untuk Menjaga Kesehatan
Font Terkecil
Font Terbesar
SEHATWEB.COM ■ Isu mahalnya harga obat di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap bahwa harga sejumlah obat di Indonesia dapat mencapai tiga hingga lima kali lebih mahal dibandingkan negara tetangga.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta baru baru ini.
Menurutnya, selisih harga tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh faktor pajak.
"Kalau karena pajak, paling beda 20 sampai 30 persen. Tapi ini bisa tiga sampai lima kali lebih mahal," ujarnya.
Budi menilai ada persoalan lain dalam struktur harga, tata niaga, hingga rantai distribusi obat di Indonesia yang menyebabkan harga menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain.
Sebagai contoh, obat-obatan yang umum digunakan seperti Crestor dan Lipitor disebut dapat dibeli dengan harga jauh lebih murah di Malaysia dibandingkan di Indonesia.
Karena itu, pemerintah menilai perlu adanya pembenahan dalam sistem distribusi serta tata kelola industri farmasi nasional agar tidak membuka ruang terjadinya korupsi sistemik dalam sektor kesehatan.
Di tengah mahalnya obat modern tersebut, sebagian masyarakat mulai kembali melirik pengobatan berbasis tanaman herbal yang telah lama menjadi bagian dari tradisi kesehatan Nusantara.
Bakul jamu tradisional, Suga Lele, menilai kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali kekayaan tanaman obat yang dimiliki.
Menurutnya, masyarakat Nusantara sejak dahulu telah mengenal berbagai ramuan herbal untuk menjaga kesehatan dan membantu mengatasi berbagai keluhan penyakit.
"Sejak dulu masyarakat Nusantara mengandalkan jamu dan tanaman obat untuk menjaga kesehatan. Banyak ramuan yang diwariskan dari nenek moyang dan masih digunakan sampai sekarang,” ujar Suga Lele.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat besar berkat keanekaragaman hayati tropis.
Sejumlah tanaman herbal yang banyak digunakan antara lain pasak bumi, purwoceng, daun kelor, kunyit putih, sambiloto, hingga kayu manis. Selain itu terdapat pula herbal populer seperti Sarang Semut Papua, Jamur Lingzhi, dan Kayu Bajakah yang dikenal luas dalam pengobatan tradisional.
Menurut Suga Lele, herbal Nusantara kini tidak hanya hadir dalam bentuk jamu tradisional, tetapi juga telah berkembang menjadi berbagai produk kesehatan modern.
Produk herbal saat ini banyak dikemas dalam bentuk kapsul, madu herbal, ekstrak tanaman obat, hingga minuman kesehatan.
Beberapa produk yang dikenal masyarakat antara lain madu herbal untuk stamina, kapsul purwoceng, pasak bumi, serta berbagai ramuan herbal yang dipercaya membantu meningkatkan vitalitas tubuh.
Selain itu terdapat pula herbal yang dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan, seperti kapsul daun insulin untuk membantu mengontrol gula darah, madu hijau untuk meredakan keluhan asam lambung, hingga kapsul daun kelor dan kulit manggis yang dikenal kaya antioksidan.
Herbal juga dimanfaatkan untuk kesehatan reproduksi, seperti madu zuriyat untuk kesuburan, ramuan program hamil berbahan herbal, serta ekstrak daun katuk yang dipercaya membantu melancarkan ASI.
Tidak hanya itu, tanaman herbal juga banyak digunakan dalam perawatan kecantikan alami, mulai dari serum herbal, skincare berbahan tanaman obat, hingga krim herbal.
Menurut Suga Lele, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat membuat tren penggunaan herbal kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Sekarang tren back to nature semakin kuat. Banyak orang kembali mencari jamu dan herbal karena dianggap lebih alami dan sudah terbukti digunakan sejak zaman nenek moyang,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan herbal tetap harus dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan peran pengobatan medis secara sembarangan.
“Herbal memang alami, tetapi masyarakat tetap perlu memahami bahan yang digunakan dan mengikuti aturan pakai,” ujarnya.
Lebih jauh, Suga Lele menilai kekayaan herbal Nusantara tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola secara serius.
Secara historis, kawasan Nusantara pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia karena letaknya berada di jalur strategis antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta di antara benua Asia dan Australia.
Kerajaan maritim besar seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit bahkan pernah menjadi pusat perdagangan rempah sekaligus pertukaran pengetahuan pengobatan herbal antarperadaban.
Menurut Suga Lele, warisan sejarah tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan kembali dalam pengembangan industri herbal modern Indonesia.
“Kalau dikelola dengan serius, herbal Nusantara bukan hanya budaya. Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi besar dan bahkan menjadi bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia di dunia,” ujarnya.
Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri herbal berbasis sumber daya alam sekaligus mempertahankan tradisi pengobatan yang telah hidup selama berabad-abad.
Di tengah mahalnya biaya kesehatan dan obat modern, herbal Nusantara diyakini akan tetap bertahan sebagai warisan budaya, alternatif kesehatan alami, sekaligus potensi ekonomi strategis bagi Indonesia di masa depan.(*)
