Proyek Pembanguan Rumah Sakit UIN Raden Intan Diduga Bermasalah
Font Terkecil
Font Terbesar
SEHATWEB.COM | LAMPUNG — Proyek Pembanguan Rumah Sakit (RS) UIN Raden intan yang berlokasi dijalan endro suratmin, sukarame bandar lampung tidak lepas menjadi sorotan Masyarakat Transparansi Merdeka (MTM) Provinsi lampung.
Proyek yang bersumber dari APBD pemerintah kota bandar lampung tahun anggaran 2025 tersebut dilakukan dua (2) tahap. Pada tahap ke-satu (1) bernilai 2,9 miliar lebih dan tahap ke-dua (2) seilai 1,9 miliar lebih.
"Proyek pembangunan Rumah sakit UIN Raden Intan ditahap kesatu dan kedua semuanya diduga melakukan pelanggaran," ungkap Ashari Hermansyah, Ketua MTM Lampung kepada media, pada Rabu (14/1/2026).
"Kalau yang kami uraikan saat ini adalah tahap kesatu dulu, dengan pelaksananya CV.APJ, dan pada tahap kesatu pekerjaan tersebut hanya memiliki tiga item pekerjaan, terutama pekerjaan pasangan bore pile, Pile cap dan sloof beton namun setelah di lakukan survei dan investigasi banyak ditemukan dugaan pelanggaran," jelasnya.
Yang pertama, ia katakan adalah pada awal pengeboran lobang pile tidak dilakukan pekerjaan pasangan lantai kerja dan juga tidak dilakukan penyedotan air yang menggenang diatas permukaan lobang sehingga berpotensi terjadinya pengurangan volume pekerjaan.
Masih terkait pekerjaan tahap satu, Pihaknya telah melakukan investigasi penggunaan pembesian terutama tulangan besi borepile, yang menggunaan besi sengkang atau istilah umum besi cincin dengan memakai besi banci 8 mm, yang seharusnya besi sengkang/cincin menggunakan besi 10 mm, dari perbedaan dimensi besi secara otomatis berbeda harga, dan ini termasuk bentuk pelanggaran atau tidak sesuai spesifikasi," kata Ashari.
Kemudian ada namanya pekerjaan pasangan Pondasi pile cap, setelah Ia lakukan investigasi hasilnya sama, yaitu berpotensi terjadinya pengurangan volume, terutama pada saat peletakan tulangan besi pile cap tidak dilakukan pekerjaan pasangan pasir 5 cm dan lantai kerja 10 cm terlebih dahulu, sehingga patut dikatakan pekerjaan tidak sesuai spesifikasi alias negara dirugikan.
"Pada pekerjaan pasangan Tulangan pembesian Pile cap sama telah terjadi unsur –unsur ketidak sesuaian spesifikasi dan dugaan pengurangan volume terutama pada tulangan pile cap antara tulangan besi satu dengan lainya berjarak 27 cm / 21 cm yang seharusnya sesuai spesifikasi berjarak 15 cm, ditambah lagi besinya tidak sesuai, karena telah menggunakan besi ulir banci D 17 dan D 18, yang seharusnya sesuai spesifikasi menggunakan D 19," paparnya.
Yang terakhir masih dengan pekerjaan tahap kesatu adalah pekerjaan pasangan sloof beton, Ashari katakan penggunakan pembesian pada tulangan besi sloof berpotensi melakukan dugaan pelanggaran, terutama disaat melakukan investigasi besi yang digunakan adalah besi banci atau tidak sesuai spesifikasi, pada susunan pasangan besi terdapat 4 bagian, atas, tengah kanan dan kiri serta bagian bawah.
"Pada pasangan besi bagaian atas pihaknya menyebutkan, telah menggunakan besi rata rata berukuran besi ulir D 14 mm dan D 15 mm, seharusnya sesuai spesifikasi menggunakan besi D 19 mm, dan ini termasuk unsur yang mengarah kerugian negara. Kemudian kata dia, pada besi sengkang atau cincin sama halnya menggunakan besi banci rata-rata besi polos 6, 7 dan 8, yang seharusnya menggunakan besi polos 10 mm," katanya.
Dalam pembangunan gedung Rumah sakit UIN Raden Intan tahap kedua (2) pekerjaan tersebut terdapat tiga (3) bagian, teriutama pekerjaan kolom beton. Balok beton dan Plat lantai beton. Pelaksana pekerja tersebut dari CV.KAP, dengan sumber biaya APBD perubahan Dinas pekerjaan umum kota bandar lampung.
Dalam paparan yang disampaikan Ketua MTM kepada media, ketiga bagian tersebut berpotensi melakukan dugaaan pelanggar, yang pertama ia katakan adalah pekerjaan pasangan pembesian kolom yang sudah dilakukan investigasi, hasilnya telah menggunakan besi banci atau tidak sesuai spesifikasi rata-rata menggunakan besi ulir D 13 mm / D 14 mm/ D 15 mm, yang seharusnya besi kolom tersebut menggunakan besi ulir D 19 mm , dan Dugaan pelanggaran lainya, adalah menggunakan besi sengkang atau cincin besi banci atau tidak sesuai spesifikasi 6 mm/7 mm/ dan 8 mm, seharusnya sesuai spesifikasi menggunakan besi polos 10 mm.
Kedua bagian lainya adalah pekerjaan pasangan Balok beton, jawabanya sama berpotensi melakukan dugaan pelanggaran. Berdasarkan hasil penelusurannya penggunaan besi pada balok menggunakan besi banci D 17 mm yang seharusnya tulangan balok pada bagian atas menggunakan besi ulir D 19 mm. Kemudian bagian terakhir masih kata Ashari adalah pekerjaan plat lantai beton, ia sampaikan besi pada plat lantai beton menggunakan besi polos banci atau tidak sesuai spesifikasi sekisar 7 mm lebih dan tidak dipasang Decking beton , yang seharusnya plat lantai tersebut menggunakan besi 10 mm dan dipasangn decking beton atau tahu beton pada bagian antara .
Ashari terangkan kembali, jika hasil audit oleh pihak yang berwenang dikemudian hari ditemukan kerugian negara maka dapat dipastikan telah terjadi dugaan korupsi, unsur korupsi lainya adalah adanya Mens rea (permufakatan jahat) atau bentuk persengkokolan antara pengguna jasa dengan penyedia jasa unuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat, adanya Mark Up anggaran dan tidak dilakukan pengawasan ekstra oleh pihak pengguna jasa maupun pihak lainya, sehingga hasil pekerjaan dianggap tidak sesuai spesifikasi yang mengakibatkan kerugian negara,
"Kalau menurut penilaian kami semua unsur mudah-mudahan sudah terpenuhi, untuk dapat dikatakan dugaan korupsi, sekarang ini bagaimana respon aparat penegak hukum saja menyikapinya, dan ia sampaikan juga sebanyak 31 pekerjaan yang sudah dilakukan investigasi akan kami uraikan satu peratu pada part part berikutnya," tegas dia. (tri)

